أَسْمَاءُ الْحُسْنَي
Jumat, 27 Juli 2012
Memahami Makna Nuzulul Qur’an
Al-Quran merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman bagi manusia dalam menata kehidupan demi mencapai kebahagiaan lahir dan batin, baik di dunia maupun di akhirat. Konsep-konsep yang dibawa al-Quran selalu relevan dengan problema yang dihadapi manusia, karena itu ia turun untuk mengajak manusia berdialog dengan penafsiran sekaligus memberikan solusi terhadap problema tersebut di manapun mereka berada. Pada kenyataannya, Al-Quran benar-benar telah mengepung level kecil klasik kesusastraan jahiliyah untuk memperkenalkan pemikiran keagamaan dan konsep-konsep monoteistiknya ke dalam Bahasa Arab. Ia juga menciptakan design dahsyat dalam Bahasa Arab dengan mengubah instrument-instrument teknis pengungkapannya. Pada satu sisi, ia menggantikan syair metrik dengan bentuk ritmenya sendiri yang tak tertirukan, dan pada sisi lain memperkenalkan konsep-konsep dan tema-tema baru yang mengarah kepada arus besar monoteisme.
Luas dan keberagaman tema Al-Quran merupakan hal yang sangat unik. la menembus sudut pandang paling kabur dalam pikiran manusia, menembus dengan kekuatan nyata jiwa orang beriman bahkan orang yang tanpa iman sekalipun untuk merasakan sesuatu dalam gerak-gerik jiwanya. Al-Quran juga mengalihkan perhatiannya kepada masa lalu yang jauh dalam sejarah perjalanan ummat manusia sekaligus mengarah ke masa depannya dengan tujuan mengajarkan tugas-tugas masa kini. Ia melukiskan gambaran dan tanda-tanda yang mengundang manusia untuk segera menarik pelajaran darinya. Dari pelajaran itu dapat ditarik kesimpulannya, bahwa ternyata jiwa manusia tanpa disadari terseret serta terpesona oleh kedalaman dan keluasan makna Al-Quran. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Quran sebagai mukjizat terbukti menjadi modal kehidupan dunia dan akhirat.
Masihkah Al-Quran bersama kita?
Masih adakah Al-Quran selalu bersama kita ; merupakan pernyataan tegas terhadap sikap, prilaku dan kondisi internal keberagamaan ummat Islam di tengah arus modernisasi sebagai suatu proses perkembangan dalam peradaban manusia. Melalui momentum Nuzulul Quran ini, pernyataan “Masihkah Al-Quran bersama kita” menjadi sebuah gugatan terhadap prilaku dan keyakinan yang belum selalu berdampingan dengan Al-Quran bahkan menyatu dengannya.
Al-Quran sebagai risalah terakhir yang sempurna dan universal bagi seluruh ummat manusia dengan konsep tanzil- turun, membawa atau menurunkan banyak pesan yang harus direpresentasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya media seruan yang dimunculkan dalam ayat al-Quran, baik yang diseru “Wahai manusia”, “Bani Adam”, “Orang-orang beriman dan kaf ir” ataupun Ahli Kitab.
Melalui risalah Muhammad, Allah SWT menurunkan al-Quran saat manusia sedang mengalami kekosongan para rasul, kemunduran akhlak dan kehancuran problem kemanusiaan, sosial politik dan ekonomi. Pada setiap problem itu, al-Quran meletakkan sentuhannya yang mujarrab dengan dasar-dasar yang umum yang dapat dijadikan landasan untuk langkah-langkah manusia selanjutnya yang relevan di setiap zaman.
Sejak diturunkannya sampai dengan sekarang al-Quran tidak pernah terlepas dari suatu tradisi yang sedang berjalan. Dengan kata lain, pesan-pesan al-Quran selalu berhubungan dengan pribadi atau masyarakat yang mengganggapnya sakral atau sebagai sentralitas etika universal.
Jika melihat kondisi ummat Islam pada saat al-Quran diturunkan, melalui momentum nuzulul Quran ini, semua peristiwa di masa lalu itu dibangkitkan melalui perenungan. Jadi ada kesamaan konteks ketika al-Quran diturunkan pertama kali dengan kondisi terkini yang secara sosial, politik, ekonomi dan agama memang sedang mengalami kebobrokan dan membutuhkan pemecahannya.
Untuk itu, ummat Islam sebagai ummat yang terbaik mengemban tugas berat yang berkaitan dengan memahami, mengilhami dan melakukan tanggung jawab. Karena memahami dan menafsirkan adalah bentuk yang paling mendasar dari keberadaan manusia dimuka bumi yang memiliki jabatan sebagai khalifah. Dengan demikian, eksistensi ummat Islam sebagai ummat yang terbaik tidak diragukan. Dengan bantuan ilmu pengetahuan dan agama, peristiwa Nuzulul Quran yang terjadi beberapa abad yang lalu menjadi sesuatu yang berkesinambungan hingga kini.
Masa lalu tidaklah usang dan ia menjadi pendahulu masa kini. Maka dari itu, upaya memahami makna nuzulul Quran pada saat sekarang ini sama sekali tidak menghilangkan makna dan konteks terdahulu, melainkan merangkumnya untuk kemudian diteruskan hingga kini. Ada semacam harapan yang harus terpenuhi dalam menghadapi tantangan global saat ini sebagaimana Rasulullah juga menghadapi tantangan dan ujian yang berat.
Setelah melihat konteks nuzulul Quran, tugas selanjutnya ialah melakukan kontektualisasi ajaran dan pesan yang terkandung dalam peristiwa nuzulul Quran. Kita harus selalu berdampingan dengan al-Quran dalam setiap pikiran, perkataan dan perbuatan. Persahabatan kita dengan al-Quran baru sebatas pragmatis dan belum menjadi sesuatu yang harmonis sehingga al-Quran belum membuka solusi terhadap problem kehidupan.
Jika kecendrungan manusia di zaman globalisasi yang didukung dengan kemajuan teknologi ini cendrung memperlihatkan sisi egoisitas dalam memenuhi kebutuhan materialnya, maka ada baiknya juga menggunaka ego untuk memenuhi kebutuhan spiritual kepada Allah yang sebenarnya menjadi ikatan primordial antara hamba dan Tuhan-Nya (Hablum min Allah wa hablum minan-naas). Karena secara psikologis ego merupakan pusat pencerapan dan kesadaranyang memberi kesempatan dan kemampuan untuk memiliki kesadaran diri sepenuhnya. Dan ego tidak lagi dipahami dengan opini negatif.
Kesadaran yang mendasar terhadap perisitiwa Nuzulul Quran memberikan akses kepada esensi al-Quran dengan keanekaragaman dimensi dan nilai holisitiknya. Bersamaan dengan itu keraguan terhadap al-Quran hilang dan digantikan dengan keyakinan yang teguh. Keyakinan yang teguh kepada al-Quran setelah dengan melakukan pencerapan dan penghayatan dapat membuka pintu-pintu hidayahnya sebagai sumber etika dan nilai universal.
Al-Quran sebagai Kalamullah secara komprehensif terbukti telah mencerahkan eksistensi kebenaran dan moral manusia. Mukjizat dan wahyu yang menjadi kitab bagi ummat Islam khususnya dan seluruh ummat pada umumnya tidak habis-habisnya menguraikan secara detail subtansi kebenaran. Ayat-ayatnya senantiasa melahirkan interpretasi filosofis yang menggugat infiltrasi pemikiran kebenaran semu bahkan menyesatkan dari para pemikir non wahyu.
Al-Quran yang membuka ruang penafsiran secara tipikal menukik pada akal orisinil dan langsung menyentuh aspek mendasar dalam kehidupan, yaitu etika dan moral dalam hubungannya sebagai hamba dengan Sang Khaliq-Allah.
Salah satu penyebab utama kekerasan dan konflik yang dialami ummat manusia karena tidak menjadikan al-Quran sebagai sumber nilai etika dan moral. Keadaan ini menurut Harun Yahya seorang Filsuf Islam Kontemporer adalah dengan mengupayakan nilai-nilai moral dan etika dalam al-Quran diberlakukan dalam kehidupan.
Allah Swt telah berbicara dalam al-Quran tentang kaidah besar seperti keadilan, perdamaian, kebenaran, Iman dan Islam. Dia juga berbicara tentang muamalah dan pandangan hidup. Problem apapun yang terjadi, krisis apapun yang berlaku, solusi dan penawarannya ada di dalam al-Quran. Dengan semangat baru, Nuzulul quran menjadi momentum efektif jika Al-Quran dijadikan sebagai solusi problem kehidupan yang memberitahukan tuntutan yang harus dilaksanakannya dalam membangkitkan berbagai niiai yang diinginkan dalam penyucian jiwa.
Membaca al-Quran sebagai jalan mencari solusi juga menyempurnakan ibadah lainnya. Ia dapat berfungsi dengan baik jika dalam membacanya disertai dengan adab-adab batin dalam perenungan, khusyu’ dan mentadabburinya yang akhirnya banyak mendatangkan manfaat berupa petunjuk dari Allah, inspirasi dan basis imajenasi.
Bertadabbur berarti memperhatikan dan merenungi makna-maknanya. Bahkan Ibnu Mas’ud berkata, “Barang siapa yang menghendaki ilmu orang-orang yang terdahulu dan ilmu orang-orang yang akan datang, hendaklah ia mendalami Al-Quran“.
Kitab Ummat islam ini memberikan pedoman serta jalan yang lurus yang mampu menghindari buruknya kesesatan. Etika kehidupan dan akhlak kan’mah terangkum dalam Al-Quran. Bahkan, Rasulullah sendiri dibina akhlaknya langsung oleh Al-Quran.
Melalui Nuzulul Quran ini, mari bersama membangun Indonesia dengan spririt keimanan dan keislaman. Menjadikan akhlak Rasulullah sebagai basis sumber daya manusia. Akhirnya Nuzulul Quran di masa lalu membawa pesan yang sama di masa kini dan akan selalu menjadi landasan structural yang abadi di masa mendatang. Amin.
Selasa, 24 Juli 2012
Lailatul Qadar
Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (bahasa Arab: لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) (malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadhan, yang dalam Al Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur'an. Deskripsi tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surat Al Qadar, surat ke-97 dalam Al Qur'an.
Etimologi
Menurut Quraish Shihab, kata Qadar (قﺩﺭ) sesuai dengan penggunaannya dalam ayat-ayat Al Qur'an dapat memiliki tiga arti yakni [1]:
1. Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Penggunaan Qadar sebagai ketetapan dapat dijumpai pada surat Ad Dukhan ayat 3-5 : Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penah hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami
2. Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran. Penggunaan Qadar yang merujuk pada kemuliaan dapat dijumpai pada surat Al-An'am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat
3. Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr. Penggunaan Qadar untuk melambangkan kesempitan dapat dijumpai pada surat Ar-Ra'd ayat 26: Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya)
Keistimewaan
Dalam Al Qur'an, tepatnya Surat Al Qadar malam ini dikatakan memiliki nilai lebih baik dari seribu, bulan .97:1 Pada malam ini juga dikisahkan Al Qur'an diturunkan, seperti dikisahkan pada surat Ad Dukhan ayat 3-6. 44:3
Waktu
Terdapat pendapat yang mengatakan bahwa terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada 10 malam terakhir bulan Ramadan, hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah yang mengatakan : " Rasulullah ShallAllahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadan dan beliau bersabda, yang artinya: "Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon" " (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169)
Minggu, 19 Februari 2012
JAGO
Tahukah.... betapa pentingnya JAGO bagi kita orang Islam, Jago berjasa membangunkan kita untuk menunaikan Sholat Subuh, Jago akan diburu orang-orang ketika ada acara NYADRANAN, budaya tradisi leluhur, yaitu ziarah bersama-sama ke makam seseorang yang dianggap sebagai CIKAL BAKAL dan berjasa dalam penyebaran agama islam,
jago di daerah kami itu sebagai syarat seseorang yang sedang melakukan acara MANAQIBAN.. atau buat KHATAMAN bagi anak-anak santri yang sudah selesai mengaji atau muwadaahan... jago juga buat adu jago dalam upacara pernikahan... dan masih banyak lagi fungsi jago dalam kehidupan.
AYAM
Ayam peliharaan (Gallus gallus domesticus) adalah unggas yang biasa dipelihara orang untuk dimanfaatkan untuk keperluan hidup pemeliharanya. Ayam peliharaan (selanjutnya disingkat "ayam" saja) merupakan keturunan langsung dari salah satu subspesies ayam hutan yang dikenal sebagai ayam hutan merah (Gallus gallus) atau ayam bangkiwa (bankiva fowl). Kawin silang antarras ayam telah menghasilkan ratusan galur unggul atau galur murni dengan bermacam-macam fungsi; yang paling umum adalah ayam potong (untuk dipotong) dan ayam petelur (untuk diambil telurnya). Ayam biasa dapat pula dikawin silang dengan kerabat dekatnya, ayam hutan hijau, yang menghasilkan hibrida mandul yang jantannya dikenal sebagai ayam bekisar.
Dengan populasi lebih dari 24 miliar pada tahun 2003, Firefly's Bird Encyclopaedia menyatakan ada lebih banyak ayam di dunia ini daripada burung lainnya. Ayam memasok dua sumber protein dalam pangan: daging ayam dan telur.
[sunting] Biologi dan habitat
Ayam peliharaan berasal dari domestikasi ayam hutan merah (ayam bangkiwa, Gallus gallus) yang hidup di India. Namun demikian, pengujian molekular menunjukkan kemungkinan sumbangan plasma nutfah dari G. sonneratii, karena ayam hutan merah tidak memiliki sifat kulit warna kuning yang menjadi salah satu ciri ayam peliharaan.
Ayam menunjukkan perbedaan morfologi di antara kedua tipe kelamin (dimorfisme seksual). Ayam jantan (jago, rooster) lebih atraktif, berukuran lebih besar, memiliki jalu panjang, berjengger lebih besar, dan bulu ekornya panjang menjuntai. Ayam betina (babon, hen) relatif kecil, berukuran kecil, jalu pendek atau nyaris tidak kelihatan, berjengger kecil, dan bulu ekor pendek. Perkelaminan ini diatur oleh sistem hormon. Apabila terjadi gangguan pada fungsi fisiologi tubuhnya, ayam betina dapat berganti kelamin menjadi jantan karena ayam dewasa masih memiliki ovotestis yang dorman dan sewaktu-waktu dapat aktif.
Sebagai hewan peliharaan, ayam mampu mengikuti ke mana manusia membawanya. Hewan ini sangat adaptif dan dapat dikatakan bisa hidup di sembarang tempat, asalkan tersedia makanan baginya. Karena kebanyakan ayam peliharaan sudah kehilangan kemampuan terbang yang baik, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di tanah atau kadang-kadang di pohon.
Ayam berukuran kecil kadang-kadang dimangsa oleh unggas pemangsa, seperti elang.
Telur ayam.
Ayam jantan yang sedang berkokok di pagi hari.
[sunting] Macam-macamnya
Karena ayam termasuk unggas peliharaan populer dan murah, muncul berbagai istilah teknis akibat kegiatan penangkaran dan peternakan ayam.
Berdasarkan fungsi
Menurut fungsinya, orang mengenal
* ayam pedaging atau ayam potong (broiler), untuk dimanfaatkan dagingnya;
* ayam petelur (layer), untuk dimanfaatkan telurnya;
* ayam hias atau ayam timangan (pet, klangenan), untuk dilepas di kebun/taman atau dipelihara dalam kurungan karena kecantikan penampilan atau suaranya (misalnya ayam katai dan ayam pelung; ayam bekisar dapat pula digolongkan ke sini meskipun bukan ayam peliharaan sejati);
* ayam sabung, untuk dijadikan permainan sabung ayam.
Istilah ayam sayur dipakai untuk ayam kampung atau ayam aduan yang selalu kalah, dan tidak diseleksi khusus sebagai ayam pedaging.
Berdasarkan ras
Ayam Sumatra
Di Indonesia dikenal istilah ayam ras dan ayam bukan ras (buras, atau kampung). Dalam pengertian "ayam ras" menurut istilah itu yang dimaksud sebenarnya adalah ras yang dikembangkan untuk usaha komersial massal, seperti Leghorn ("lehor"). Ke dalam kelompok ayam buras terdapat pula ras lokal ayam yang khas namun tidak dikembangkan untuk usaha komersial massal. Ayam-ayam ras lokal demikian sekarang mulai dikembangkan (dimurnikan) sebagai ayam sabung, ayam timangan (pet), atau untuk acara ritual. Berikut ini adalah ras lokal ayam di Nusantara yang telah dikembangkan untuk sifat/penampilan tertentu:
* ayam pelung, ras lokal dan unggul dari Priangan (Kabupaten Cianjur) yang memiliki kokokan yang khas (panjang dan bernada unik), termasuk ayam hias;
* ayam kedu (termasuk ayam cemani), ras lokal dan mulia dari daerah Kedu dengan ciri khas warna hitam legam hingga moncong dan dagingnya, termasuk ayam pedaging dan ayam hias;
* ayam nunukan, ras lokal dan mulia dari Nunukan, Kaltim, dengan bentuk badan tegap dan ukuran besar, keturunan ayam aduan, termasuk ayam pedaging dan hias;
Berdasarkan penampilan luar (fenotipe) khas
Ayam "bantam" adalah istilah bahasa Inggris untuk ayam katai atau setengah katai hasil seleksi.
Terdapat pula beberapa istilah untuk menyebut penampilan fenotipe khas tertentu namun sifat itu tidak selalu eksklusif milik ras tertentu, seperti
* ayam walik (frizzle), ayam dengan bulu yang tidak menutupi badan tetapi tegak berdiri;
* ayam bali, ayam dengan leher tidak berbulu dan jambul di kepalanya, sekarang mulai dibiakmurnikan.
* ayam katai (bantam), istilah umum untuk ayam dengan ukuran kecil (proporsi panjang kaki dengan ukuran badan lebih kecil daripada ayam "normal"), terdapat berbagai ras lokal dan ras murni seleksi yang masuk kategori ini.
Kamis, 16 Februari 2012
betik
pernah dengar, ikan betik.... ikan betik hidup di air tawar, di sungai, persawahan, rawa-rawa. ikan ini mempunyai kemampuan hidup yang sangat kuat, tubuhnya banyak berduri ( atas bawah ).. di daerah kami ikan betik banyak diburu untuk dipancing, sensasi memancing betik memang luar biasa, begitu dimakan kail pancing kita terasa bergetar... dan cuit, ketangkap dia. ikan ini enak digoreng, enak lagi dibakar dicoss diatas coek bersambal pedas pake sayur bening, aduh.... terasa seperti ndak punya hutang saja bila sudah makan pakai lauk ikan betik, segar dan berkeringat... kalau ndak percaya coba saja.... he...2x
Rabu, 15 Februari 2012
“ AL-LUBAB” ‘Ala Thoriqil Barqi Fi Ta’allumil Kitab ( QUANTUM READING BOOK) Cara Cepat Membaca Kitab 6 Jam Langsung Praktek “
oleh : Ustadz Ahmad Fahruddin
(mantan Lurah Desa Jungpasir)
Bagi sebagian santri ataupun murid di sekolah pelajaran Nahwu shorof adalah satu pelajaran yang diangggap momok karena kadar kesulitannya . Setiap kali mendengar kata itu pasti konotasinya yang terbersit adalah hafalan , baik yang berupa nadhoman,natsar, tasrifan atau sekedar ringkasan . Padahal ilmu Nahwu shorof tersebut sangatlah penting sebagai alat untuk membaca atau mempelajari kitab kuning yang menjadi menu wajib di pondok pesantren dan juga madrasah-madrasah.
“ Itulah awal mula dari kegundahan hati saya melihat saat ini banyak anak-anak yang enggan mempelajari ilmu nahwu shorof karena mereka anggap rumit dan sulit. Dari itulah terbersit di pikiran saya untuk membuat suatu metode pembelajaran ilmu nahwu shorof itu agar lebih mudah sehingga mereka yang akan mempelajari tidak merasa takut tidak bisa. Alhamdulillah dari 15 tahun lebih menjadi pengajar ditambah denga bekal saya ngaji di pondok pesantren saya pun bisa membuat metode baru yang kami tulis menjadi buku yang kami beri judul “ AL-LUBAB” ‘Ala Thoriqil Barqi Fi Ta’allumil Kitab ( QUANTUM READING BOOK) Cara Cepat Membaca Kitab 6 Jam Langsung Praktek “ kata beliau pak den biasa disebut.
methode ini bagus terutama bagi santri, pelajar dan mahasiswa apalagi bagi para santri yang sudah lama tidak mengaji dan lupa dengan ilmu nahwu-shorof, begitu kata mas fidhin dan pak ir yang telah melihat langsung prosesi pembuatan audio vidio methode ini, dengan durasi sekitar 3 jam seseorang sudah diajak menjelajahi dasar-dasar ilmu nahwu-shorof, inya Allah sekitar 1 bulan ke depan cd methode ini akan diedarkan.
sudah banyak yang mengakui bagusnya metode ini, terbukti banyaknya permintaan presentasi langsung dari methode ini, baik dilingkungan pondok pesantren, madrasah, kampus bahkan individu, misal pada bulan januari kemaren beliau diundang sampai ke luar jawa yaitu pulau sumatra,
meski demikian, banyak penolakan dan sikap apriori dan mengatakan imposible terhadap methode ini terutama dari sebagian santri di desa ini, entah apa motifnya.
lepas dari semua itu, kita harus memberikan apresiasi baik terhadap methode ini karena untuk penyelamatan dan pengembangan ilmu nahwu-shorof dan menggugah kembali para mantan santri untuk kembali mempelajari ilmu ini.
semoga bermanfa'at, Wallahu A'lam.
WACANA MENYATUKAN KEGIATAN HAUL BERSAMA DI DESA JUNGPASIR

WACANA MENYATUKAN KEGIATAN HAUL BERSAMA DI DESA JUNGPASIR
بسم الله الرحمن الرحيم
HASIL RAPAT PADA :
Hari : Jum’at
Tanggal : 3 Februari 2012
Waktu : Jam 13.00 setelah sholat jum’at
Tempat : Masjid Al Azhar Jungpasir
Pengundang : Forum Silaturahim Masyarakat Jungpasir di Jakarta ( tertanda H. Ahmad Faizin mengetahui Kepala Desa )
Embrio Rapat : Rapat ini dilaksanakan sebagai kesepakatan pada rapat sebelumnya yang dilaksanakan pada Hari Rabu, 1 Februari 2012 di rumah Bapak H. Ahmad Faizin Jam 20.00 sampai selesai yang dihadiri oleh forum silaturahim masyarakat jungpasir di Jakarta bersama dengan perwakilan kaum masjid dan musholla se-Desa Jungpasir, yang hasilnya dibawa pada rapat tingkat desa di Masjid Al Azhar Jungpasir.
Moderator : Abdul Mughni, S.Ag ( ketua NU desa Jungpasir )
Notulen : Hafidhin ( Sekretaris NU dan Ta’mir Masjid Al Azhar Jungpasir )
Paparan :
1. H. Ahmad Faizin :
a. Penarikan dana ke Jakarta dari desa untuk kegiatan pengajian haul terlalu banyak, proposal yang satu belum dilaksanakan sudah ada menyusul proposal berikutnya, sehingga team penarik dan yang ditarik merasakan mengalami kejenuhan.
b. Estimasi dana yang ditarik untuk kegiatan non fisik selama 1 tahun bisa mencapai ± 120.000.000,- seandainya dana itu dipergunakan pembangunan fisik akan jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat
c. Ukhuwah islamiyah lebih dikembangkan, kongkritnya dengan menyatukan pengajian haul masyayeh.
2. H. Rukaini
a. Penegasan dari pemapar pertama
b. Kronologis – wacana ini ( seperti yang disampaikan pemapar pertama ) berasal dari pendapat individu dan kelompok masyarakat jungpasir di jakarta sejak 4 tahun telakhir, rapat pada hari ini sudah dirapatkan sebelumnya di Jakarta dan di Desa yang dihadiri kepala desa Jungpasir
c. Kebebasan untuk menerima dan menolak wacana ini, akan diatur moderator dalam rapat ini.
d. Para penarik dana di jakarta dapat membaca sikap terhadap masyarakat yang ditarik hampir 90 % setuju atas gagasan ini, dengan tidak mengurangi rasa ta’dzim terhadap para masyayeh dan mencari solusi ke depan terbaik untuk masyarakat Desa Jungpasir
3. Simpulan Paparan
1. Evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan di Desa Jungpasir
2. Bilamana Haul di seluruh Desa Jungpasir dijadikan menjadi satu menjadi HAUL AKBAR
3. Pendapat –pendapat perwakilan
1. Kaum Musholla Nurul Huda
Gus Amin : belum berpendapat karena belum dirembugkan dengan teman- teman yang lain
Sihabuddin : harus mendengarkan pendapat dari para kiyai dan guru terlebih dahulu
2. Kaum Musholla Al hidayah
K. Turjaun : penarikan dana ke Jakarta tidak melalui penarik yang seperti biasa ini.
KH. Abdul Ghofur : Setuju dijadikan satu tergantung keluarga ndalem yang duhauli
3. Kaum Musholla Al Amin
Muadzim : belum rembug dengan teman-teman dan harus ada ijin kiyai (idem nurul huda)
4. Kaum Masjid Al Azhar
Nur Rofiq : Setuju pengajian haul dijadikan satu karena dari team penarik di jakarta dan di desa sudah mulai keberatan
K. Tahrir : Setuju disatukan dengan tujuan ukhuwah
HM. Sholihun : setuju haul dijadikan satu, pembanguan juga dijadikan satu.
5. Kaum Musholla Syafinatul Jinan
Jaelani : yang dijadikan satu haulnya tapi pengajian maulid kan tidak.
6. Kaum Musholla Al Muhtadin
K. Abdur Rosyad : Setuju Haul Akbar
Soeb : Ikut saja hasil dari rapat ini
7. Kaum Musholla Baitul Izza
Abdul Ghoni, S.Ag : Sangat setuju haul akbar, dana dialihkan ke pembangunan fisik
Sholehan : sangat setuju haul dijadikan satu agar tidak terjadi kecemburuan
8. Kaum Musholla Miftahul Huda
KH. Syarkowi : ikut saja dengan usul forum yang di Jakarta
Suaib : setuju-setuju haul dijadikan satu, untuk proposal dana ke jakarta hanya boleh kegiatan Maulid Nabi
9. Pendapat lain
1. Ahmad Dalhar : mempertanyakan mekanismenya bagaimana dan kapan diberlakukan
2. Jaelani : pengajian akbar akan lebih memperbanyak dana yang dikeluarkan
3. Khoerul Ulum, S.Ag : lebih diperjelas proposal kegiatan mana yang boleh menarik/meminta masyarakat
4. KH. Abdur Rohim : mempersilahkan dan setuju serta kegiatan pondok (haul) masih tetap jalan
5. K. Abdul Afif : SETUJU apa yang menjadi kesepakatan bersama namun kegiatan kaum diberikan hak untuk mengadakannya
6. KH. A. Hasyim : Haul akbar sudah pernah ada (read: mungkin Maulid Akbar yang dimaksud), haul-haul yang ada dijadikan satu saja seperti dulu.
7. Gus Ma’mun : setuju tapi jangan membatasi kegiatan pondok pesantren
8. Sabiq Khoeron, S.Pd.I : mengikuti kesepakatan bersama-sama
9. KH. Abdullah hadziq : 1. Setuju haul diadakan akbar/dijadikan satu, tekhnisnya bila digilir akan menjadikan kecemburuan maka tempatnya menjadi satu yaitu di Masjid
2. kesepakatan ini tidak semerta-merta diberlakukan namun untuk 1 tahun ke depan
10. Untuk mekanismenya akan dibahas lebih lanjut.
و الله ا علم بالصواب
Langganan:
Postingan (Atom)






